Jumat, 10 April 2026
Peperangan Sesungguhnya Yang Mendapatkan Cinta Allah
"Wahai Ahmad, tidaklah sama, seseorang yang berhadap-hadapan, lalu menjabat bayangan dengan tangan, dan mengatakan “Aku memaafkan” ketika seseorang meminta maaf, dengan orang yang datang berhadap-hadapan, lalu berjabat tangan dengan nyata dan mengucapkan, “Sungguh aku menginginkan Kemuliaan Allah, dengan saling memaafkan atas segala kekhilafan dan dosa-dosa saudaraku kepadaku”, itulah perumpamaan orang yang memaafkan hanya dengan lidahnya, sedangkan hatinya masih memendam amarah dan ketidakikhlasan. Tidaklah sempurna iman seseorang tanpa kesabaran disertai kesadaran."
"Wahai Ahmad, apakah mereka mengira, bahwa apa yang telah dilakukan, yakni orang-orang yang berjuang di atas perahumu, telah sampai pada kesempurnaan perjuangan, sebelum mendapat kemenangan yang Allah janjikan. Sungguh setiap kemenangan itu terjadi, sebelumnya Allah telah menyatakan dalam Firman Nya, tidaklah Allah menguji dengan rasa takut akan kemiskinan, khawatir, sedikit penderitaan, hingga Allah menilainya dan memberikan, apa-apa yang pantas untuk mereka, yang demikian itu adalah kehendak dan kekuasaan mutlak milik Allah, karna Allah lah yang Maha Berkuasa dan Berkehendak."
"Wahai Ahmad, sungguh perahu yang berjalan di tengah Samudra, tidaklah dikendalikan oleh layar dan angin, melainkan dikendalikan oleh arah dan tujuan nakhoda dengan ilmunya, yang demikian itu adalah perumpamaan bagi seorang pemimpin. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, hendaklah dirimu dan pengikutmu yang laki-laki memahaminya."
"Wahai Ahmad, hendaklah para pengikutmu bersabar, tidak ada satupun kehendak Allah yang tidak ada manfaat keuntungan dunia dan akhirat. Sungguh Allah menciptakan segala sesuatu di atas dunia, sebagian dihalalkan dan sebagian menjadi ujian dengan Allah mengharamkannya, dan Dia lah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, serta Maha Pemberi Petunjuk kepada hamba Nya yang sabar dan hamba-hambaNya yang memahami KehendakNya."
"Wahai Ahmad, sungguh Allah Aza Wajalla menginginkan aku, Balya bin Malkan, menggunakan tangan istri pertamamu untuk memberi khabar dan menuliskannya, sebagaimana yang diperintahkan Allah, untukmu Ahmad Al Makhfiy. Apakah mereka mengira dan istri-istri Ahmad Al Makhfiy mengira, dengan apa-apa yang aku sampaikan kepadamu (Ahmad) adalah kedustaan ? Sungguh setelah ini akan datang tanda kebenaran apa-apa yang dituliskan pada mimpi istri pertama Ahmad. Sungguh aku, Balya bin Malkan menjadi saksi atas malam ini."
"Wahai Ahmad, sungguh tidaklah sebatang ranting akan mampu menahan beban yang berat, yang demikian itu adalah perumpamaan seorang yang memimpin suatu kaum dan menanggung beban secara kesendirian, seseorang dalam memimpin hendaklah memahami dan memiliki hati yang bersih dari kesombongan dan keserakahan dan basah dengan ilmu Allah, dan memilih orang-orang yang berjuang bersamanya dengan bijaksana dan dengan kecerdasan bersama ilmunya. Yang demikian itu, akan mendatangkan pertolongan dari Allah, di dalam perjuangannya."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu bersabar atas perintah yang kamu jalankan pada saat ini. Katakanlah, jika Allah mencintai seseorang hamba, maka Allah akan menghapus kesalahan dan dosa-dosanya dengan penderitaan atau dengan sakit pada tubuhnya, dengan masa yang hanya Allah yang menentukan kadarnya. Sungguh jika hamba itu bersabar dan tetap pada jalan yang lurus taubatan nasuha, sungguh Allah meringankan langkahnya dan membuka jalan yang terbaik dari setiap persoalan, maka bersabarlah. Sungguh Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu memberikan kepercayaan kepada pengikutmu keatas tanah yang telah ditetapkan, hingga terbina diatasnya apa-apa yang menjadi kehendak Allah atas tanah itu. Bukankah telah Allah mudahkan para pengikutmu membelinya ? Lalu Allah hadiahkan tanah yang luas untukmu ? Hendaklah kamu berfikir."
"Wahai Ahmad, tidaklah mereka merasakan manfaat dari apa-apa yang kamu kerjakan, sungguh bukanlah "tanganmu" melainkan Allah lah yang meletakkan kasih sayang Nya didalam kesemua itu, hingga mereka merasakan manfaat dengan apa-apa yang kamu ciptakan."
"Wahai Ahmad, tidaklah Allah menempati sesuatu, karena Allah tidak menyerupai segala sesuatu, tidak pula Allah beristiwa' sebagaimana istiwa'nya sesuatu di atas sesuatu, karena Allah tidak menyerupai sesuatu, Allah Maha Mendengar dan tidaklah Allah mendengar sebagaimana makhluq Nya mendengar, disebabkan Allah tidak serupa dengan segala sesuatu, tidak pula Allah itu melihat sebagaimana makhluq Nya melihat, dikarenakan Allah tidaklah menyerupai segala sesuatu. Sungguh tidaklah sempurna iman seorang hamba yang mengatakan Allah itu Beristiwa', lalu ia membayangkan istiwa'nya Allah sebagimana Istiwa' yang serupa dengan yang menciptakan rupa. Sungguh Allah tidaklah sama dengan apa yang ia serupakan dan tidaklah Allah menyerupai rupa yang di rupakan. Dialah Allah yang tidaklah ada satupun menyerupai diri Nya."
"Wahai Ahmad, katakanlah..! Apakah peperangan itu ? mereka hamba-hamba Allah yang mengira telah sampai pada peperangan yang haq ? Sungguh mereka berperang dengan akal dan hati yang penuh rasa takut kehilangan "nama besar" dan sebagian kaum kafir yang memerangi merasa lebih hebat dan lebih menguasai dunia, sungguh mereka akan menjumpai kebuntuan dan kerugian yang nyata. Sungguh Allah benar-benar akan menurunkan murka Nya diatas tanah-tanah mereka. Apakah peperangan itu ? Peperangan besar adalah ketika iblis mengatakan "tinggalkanlah kesabaran dan keikhlasan" lalu seseorang itu meninggalkan bisikan iblis lalu ia bersegera menuju cahaya sabar dan ikhlas didalam hatinya, lalu ia menahan lisannya dari berkata-kata kasar, dan menahan tangannya untuk berlaku kasar tanpa hukum dan aturan yang tegas dan jelas didalam Al-Qur'an, hingga cahaya kasih sayang Allah menyelimuti akal dan hatinya. Yang demikian itu adalah sifat terpuji yang dicintai Allah."
"Wahai Ahmad, sungguh Allah Maha Cepat Perhitungan Nya, dan Allah lah yang Maha Adil dalam menilai perjuangan Hamba Nya. Serta Allah lah yang Maha Bijaksana dalam memberikan apa-apa yang telah dikorbankan dan diperjuangkan hamba Nya, apakah mereka mengira telah sebanding apa-apa yang mereka korbankan didalam perahumu dengan karunia Allah yang datang kepada mereka melalui "tangan mu" ? Sungguh didalam satu hal yang kamu ciptakan, telah Allah letakkan lima atau sepuluh cabang yang berbeda rupa dan rasa juga manfaatnya, sungguh mereka tidak mengetahuinya. Yang demikian itu disebabkan Allah menilai dengan bijaksana apa-apa yang telah dirimu kerjakan."
"Wahai Ahmad, katakan kepada mereka, tidaklah Allah menitipkan karunia Nya melainkan Allah Maha Mengetahui kadar kesabaran dan kemampuan hamba Nya itu dalam menjaga amanah Nya, bukankah istri-istri yang mereka nikahi dan anak-anak yang ada pada mereka adalah "titipan" Allah ? Tidaklah mereka merasa bangga dan bahagia, jika seorang Raja yang menitipkan kuda yang sakit kepada mereka, pastilah mereka mengatakan "Aduhai bahagianya aku mendapatkan titipan dari Sang Raja, dan sudahlah pasti Sang Raja akan memperhatikanku dan segala yang aku butuhkan. Lalu mengapa hamba-hamba Allah yang mengaku beriman kepada Allah Azza Wajalla merasa penat dengan istri-istri dan anak-anak mereka ? Sedangkan yang menitipkan anak-anak kepada mereka adalah Allah Azza Wajalla melalui rahim istri-istri yang mereka ikat dengan ikatan yang kuat ( Nikah ). Bukan mereka aku atau dirimu melainkan Allah lah yang memilihnya dan menetapkannya."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu menetapkan kembali beberapa pengikutmu untuk membina satu perniagaan bersamamu dan istri pertamamu yang dicintai Kakekmu yang Mulia Muhammad, sungguh aku Balya bin Malkan menyampaikan apa-apa yang Allah sampaikan kepadaku, hendaklah ia tidak meragukannya, sungguh aku telah memegang tangannya atas perintah Allah, tidaklah ada sedikit keraguan di hatinya, kecuali syetan-syetan yang membakar amarahnya, bukankah Allah telah mengisyaratkan dalam mimpinya...? Allah senantiasa memenangkan peperangan melawan dan menundukkan syetan-syetan ? Sungguh arti dalam mimpinya adalah peringatan agar ia mampu menundukan amarahnya, dan janganlah merasa sedih dan merasa berat setelah Allah mudahkan dan meringankan."
"Wahai Ahmad, tidaklah menjadi hina dirimu dengan fitnah dan tidaklah akan jatuh dirimu dengan tuduhan-tuduhan keji, sungguh hanya Allah lah yang mampu menjatuhkan dan menghinakan, hendaklah dirimu bersabar. Tidaklah akan mencapai kejayaan rencana-rencana dzalim dari mereka yang dzalim sekalipun datang dari orang yang paling dekat denganmu, sungguh Allah lah yang akan menjatuhkannya. Hendaklah dirimu bersabar dan hendaklah dirimu menjadi tenang."
"Wahai Ahmad, katakan kepada para pengikutmu, apakah sekelompok orang yang turun dari kuda-kuda mereka lalu duduk dan diam di tepi jalan dengan hanya memperhatikan jalan yang nampak terjal dan berlubang akan sampai pada tujuan yang tinggal beberapa hasta lagi ? Sedangkan tangan-tangan mereka memegang tali yang mengikat pada kuda-kuda tunggangan mereka, disebabkan mereka diselimuti rasa takut dan ragu akan sampai pada tujuan, yang demikian itu adalah perumpamaan orang-orang yang dahulu meragukan perjuangan Kakekmu di Kota Madinah, lalu mereka berpaling dan lari dari perintah Allah yang menakutkan disebabkan hati mereka mempunyai setitik hubuddunia, lalu setelah Kakekmu yang Mulia dan para pengikutnya memenangkan peperangan besar, mereka tertunduk hina dan malu. Apakah hal demikian akan terjadi pada perahumu... Hendaklah beberapa pengikutmu yang memahami arah dan langkahmu menentramkan saudara-saudara mereka yang diselimuti rasa was-was dan ragu, hendaklah dirimu bersabar."
Ahmad F. bin Abdullah A. Syams
.png)