Sabtu 3 Oktober 2026
Perintah Menyegerakan Persiapan Ladang di Negeri Sembilan dan Kehadiran Rasulullah Dalam Mimpi Pengikut Ahmad di KAZ3
Beliau mendatangiku dengan salam yang terbiasaku mendengar, lalu memegang kepala istriku dan menarik keras tanganku untuk bangkit dari tempat tidurku, lalu beliau berkata.
"Wahai Ahmad, setelah banyaknya tanda-tanda kekuasaan Allah pada apa yang kamu khabarkan, lalu mereka menilai itu semua sebagai bacaan yang mudah mereka pilih dan pilah. Sungguh, ketika bani israil mengatakan inginkan bukti yang tidaklah mungkin dapat melihat Allah dengan nyata, lalu petir menyambar mereka. Dengan itu Allah kemudian menghidupkan kembali mereka, namun bagi yang keras hatinya tetap saja sebagian dari mereka tidak beriman kepada Allah. Yang demikian itu hendaklah tidak terjadi pada ummat di akhir zaman."
"Wahai Ahmad, sungguh telah Allah berikan bukti-bukti yang nyata, di antara pengikutmu, buah keikhlasan dan kesabaran mendatangkan kebahagiaan, hendaklah pengikutmu itu menjaga rumah tangganya yang baru dengan sabar, sungguh tertahannya hajat menjual bangunan itu, disebabkan adanya Kebodohan dari pasangan yang dahulu, tidaklah ia menunda nunda untuk menyelesaikan persoalannya dengan pasangan yang lama. Hendaklah ia menunggu tiba masa suci pasangannya yang baru, lalu ia memberikan pemberian sesuai dengan kemampuannya kepada pasangan yang lama sebagai hadiah. Yang demikian itu lebih di cintai Allah dibandingkan menciptakan permusuhan. Hendaklah ia menunjukan akhlaq dan adab yang terbaik dalam perceraian."
"Wahai Ahmad, tidaklah mereka mengatakan hal-hal yang buruk tentangmu, melainkan mereka hanya melihatmu dari permukaan saja, sungguh mutiara itu tersembunyi pada cangkang dan daging yang tiada menarik dari permukaannya. Tidaklah ada dosa bagimu dalam menjalankan perintah Nya. Hendaklah orang-orang yang ada dalam perahumu tidaklah bertanya tanya dan menjadi ragu."
"Wahai Ahmad, telah datang bukti-bukti nyata tentang janji Allah dalam perahumu. Tidaklah mereka yang telah lama berada di dalam perahumu bersabar, dan hendaklah dirimu dan istri pertamamu menjaga "tempat duduk kalian" dan janganlah meragukan apa-apa yang dirimu sampaikan, Aku Balya bin Malkan telah mendengar dengan nyata, bahwa Kakekmu yang Mulia Muhammad telah mengabarkan kepada istri pertamamu dan hendaklah ia bersabar. Sungguh jalan menuju asrar tidaklah mudah bagi istri pertamamu, bukan karena amal shalehnya, melainkan atas ke Maha Kasih Sayangan Nya Allah kepada hamba-hamba Nya yang bertaubat, hendaklah ia mengatakan "sami'na wa atho'na" dan bukanlah ia mengatakan "sami'na asoyna". Yang demikian itu lebih mendatangkan kedamaian dan derajat yang tinggi dalam pandangan Allah dan ummat akhir zaman."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu tidak berputus asa dan ragu dengan apa-apa yang aku sampaikan pagi ini, dan jangan pula dirimu menolak apa-apa yang telah Allah tetapkan, sungguh akan datang orang-orang yang menolongmu dalam perjuangan yang hampir sampai pada kejayaan yang nyata, sungguh aku menjadi saksi kesabaranmu, atas orang-orang yang mencacimu dengan nyata, dan kesabaranmu memaafkan mereka yang hendak mengotori namamu dengan nyata, dan tidaklah aku melihat dirimu menghukum mereka, meskipun dirimu mampu melakukannya. Yang demikian itu adalah sifat Kakekmu yang Mulia Muhammad. Tetaplah bersabar dalam menjalani kehidupan di atas dunia. Janganlah sampai Allah berpaling darimu. Hanya karena takut kehilangan pengikutmu yang mulai ragu dengan apa-apa yang kamu jalankan. Siapakah yang mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan ? Sungguh Allah lah yang mendatangkannya, bukan dari pengikutmu dan orang-orang di sekelilingmu yang bersifat pembangkang. Sang asrar tidaklah mengkhawatirkan hilangnya pujian dunia dan hilangnya dirinya dari pandangan manusia. Hendaklah dirimu berteguh hati dengan apa yang aku sampaikan kepadamu tentang tiga amanah Kakekmu yang Mulia Muhammad pagi ini. Hendaklah dirimu bersabar."
"Wahai Ahmad... Janganlah seseorang itu bagaikan menyusun batu yang indah lalu setelah berdiri, ia meruntuhkannya lagi dengan melemparnya dengan batu yang lain. Yang demikian itu perumpamaan bagi seseorang yang telah mendapatkan derajat yang tinggi, lalu jatuh karena amarah dan hati yang keras serta lisan yang tak tertahan. Sungguh Allah membenci hamba-hamba Nya yang berhati kasar, lagi berkata kata buruk."
"Wahai Ahmad, bersegeralah menyelesaikan segala yang telah aku katakan kepadamu, atas ladang-ladang yang telah Allah berikan kepadamu untuk mereka di atas perahumu, binalah diatasnya sebuah bangunan yang telah aku khabarkan kepadamu di negeri itu. Sungguh Allah hendak menjadikan tempat itu menjadi ramai dan indah. Yang semula sepi lalu tiba-tiba menjadi ramai disebabkan apa-apa yang kamu ciptakan diatas tanah itu. Menjadi tempat yang indah dan menjadi tujuan orang-orang dalam mencari ketenangan. Yang demikian itu disebabkan mereka para pengikutmu di negeri itu sungguh-sungguh dalam menjalankan amanah yang Allah tetapkan ke atas mereka. Sungguh Allah telah menyaksikan keikhlasan hati mereka dengan senantiasa memudahkan perjuanganmu, bukankah para cendekiawan di negeri mereka merasa heran dan menyimpan rasa takjub atas apa yang telah kamu ciptakan untuk menyuburkan ladang-ladang dan tanah serta pasir laut dengan apa-apa yang tidak sesuai dalam akal dan ilmu mereka...? Katakanlah... Bukanlah Ahmad Al Makhfiy bin A. Syams yang menciptakannya, melainkan Allah Azza Wajalla yang menginginkan negeri mereka makin subur dan menjadi tempat bagaikan "negeri" yang dicintai Kakekmu yang Mulia Muhammad di masa Beliau ada ditengah tengah ummat manusia. Hendaklah mereka para pemimpin negeri itu memahaminya. Sungguh hujan yang lebat itu menjadi tanda-tanda keberkahan atas ladang itu."
"Wahai Ahmad... Allah Azza Wajalla menerima apa-apa yang menjadi pilihanmu. Namun tidaklah mudah bagimu jika memilih meneruskan dakwah orang yang beberapa hari lagi di jemput Allah itu. Sungguh ia adalah waliyullah yang menjalani dakwah dengan cara yang indah dalam syair-syairnya.
Hendaklah dirimu mempertimbangkan keputusanmu menolak perintah yang satu dan menerima perintah yang kedua. Sungguh Allah hendak memberikan dirimu keringanan atas kedua perintah itu."
"Wahai Ahmad... Selesaikanlah persoalan atas ladang di negerimu. Dan abaikanlah apa-apa yang membebani hatimu. Sungguh dibalik penderitaan yang mereka timpakan atasmu, tidaklah akan membinasakan dirimu. Sungguh hina seseorang yang telah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Allah datangkan kepadamu, lalu mereka masih mencari cari bukti-bukti nyata yang lain. Apakah mereka menunggu Allah memenuhi mulut-mulut mereka dengan tanah dan siksa kubur, barulah mereka akan mengatakan bahwa, apa-apa yang kamu sampaikan itu benar...? Hendaklah mereka berfikir."
"Wahai Ahmad, ketuklah kembali tongkatmu hingga nampak sinar yang terang hingga mereka mengira matahari itu terbit dari timur. Sungguh yang demikian itu peringatan yang nyata dari Allah ke atas negeri-negeri yang sombong. Lalu setelah itu Allah menggetarkan langit di sebagian negeri mereka dan menggetarkan bumi di sebagian negeri yang lain. Hingga benar-benar bangunan-bangunan mereka masuk ke dalam bumi sebagai peringatan yang keras atas kesombongan mereka. Katakanlah kepada para pengikutmu, tidaklah Allah menggetarkan tanah sebagian dari mereka, melainkan hanya sedikit saja. Hendaklah mereka tidak merasa takut."
"Wahai Ahmad... Baiknya kembali dirimu ke bukit dimana aku berada. Hendaklah dirimu melakukannya tanpa ragu. Katakanlah kepada istri pertamamu. Hendaklah ia bersabar. Bukankah dahulu jalan ini yang ia inginkan...? Lalu Allah mengabulkan segala harapannya...? Apakah ia akan menjadi ragu setelah sebagian yang diharapkannya, perlahan Allah berikan ? Sungguh perbandingan pada dirinya adalah diantara 10 yang telah Allah berikan hanyalah 1 ujian yang Allah turunkan ke atas dirinya. Apakah ia tidak berfikir...? Janganlah ia mengulangi kesalahan yang sama dan hendaklah dirimu bersabar dan berteguh hati dalam menyampaikan apa-apa yang aku sampaikan kepadamu yang tidak ada dalam tulisan."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu mempersiapkan tempat yang cukup untuk masa perjumpaanmu dengan mereka para pengikutmu, sungguh akan datang orang-orang yang tidak disangka-sangka pada acara itu. Jadikanlah satu hari menjadi acara yang terbuka bagi mereka yang ingin berjumpa denganmu, dan kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang yang ada dalam perahumu sejak lama, dan katakan kepada istri-istrimu dan para pengikutmu, hendaklah mereka menunjukkan akhalqul karimah, sungguh bukanlah kehendak aku dan dirimu atas penetapan tempat itu, melainkan atas kehendak Allah, disebabkan Allah Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untukmu dan istri pertamamu. Sungguh kemuliaan itu datang dari kesabaran dan dari keikhlasan. Hendaklah ia tidak mengatakan "Apakah aku akan sanggup memikulnya?", sedangkan Allah telah membentangkan jalan yang indah menuju syurga Nya. Sungguh, pada acara itu hendaklah di tempat yang tak jauh dari tempat dimana kita biasa berjumpa. Hingga datang lagi masa satu tahun, acara itu berada di negeri para pengikutmu diatas ladang yang tengah mereka bina. Sungguh Allah akan mendatangkan kembali getaran dan keindahan yang nyata bagi mereka yang datang. Dan menguji sebagian yang lain. Hendaklah dirimu dan para pengikutmu bersyukur. Katakanlah! Siapakah yang menyembuhkan jantung yang sakit hingga sembuh tanpa bekas pada acara pertemuan yang pertama dahulu...? Menyembuhkan yang tuli dan menyempurnakan kesehatan seorang anak kecil pada acara pertemuan kedua, sungguh pada pertemuan ketiga ini, Allah hendak melihat kesungguhan hati mereka kembali. Kerinduan mereka kepada Kakekmu yang Mulia Muhammad akan terbasuh dalam mimpi-mimpi mereka ditempat itu, hingga mereka semua mendapatkannya dengan bergantian. Yang demikian itu tanda besarnya cinta Nabi Mulia Muhammad ke atas diri mereka yang sabar."
"Wahai Ahmad, katakanlah kepada dia pengikutmu yang berhadapan dengan para pakar dan cendekiawan, siapakah yang menuntun lidahnya dalam berkata-kata ? Hingga mereka para pakar dan para cendekiawan menjadi takjub ? Sungguh Allah lah yang menuntunnya dan mudah bagi Allah melakukannya. Hendaklah mereka bersyukur. Sebagai mana Allah menetapkan derajat yang tinggi dalam asrar kepada istri pertamamu, hendaklah ia tidak mengatakan, “Apakah sedemikian tinggi derajatku sedangkan ilmu agamaku dan ibadahku tidaklah sempurna ?” Katakan!!! Sungguh mudah bagi Allah meletakkan kemuliaan, bahkan kepada sepotong batu di tepi dinding Baitul Makmur di tanah haram."
Ahmad Fahmi bin Abdullah Alwie Syams
