Selasa 27 - 10 - 2026
Perisai Diri Manusia Dari Tusukan Syaitan dan Hikmah Kecemburuan Sarai Terhadap Qonturah
Beliau Nabi Khidr a.s mendatangiku dalam keadaan yang tidak seperti biasanya, nampak dari suara salam beliau seakan menahan amarah atau kesedihan yang tidak pernah aku melihatnya demikian, lalu beliau berkata.
"Wahai Ahmad, tulislah dan jangan sedikitpun dirimu enggan menulisnya disebabkan rasa khawatir dan takutmu. Sungguh tidaklah syetan-syetan itu mampu "menusuk" hati manusia, jika manusia itu sendiri tidak melepaskan perisai dirinya, tahukah kamu perisai diri manusia dari tusukan setan ?
- Yakni terlepasnya yakin di hati manusia, dengan datangnya keraguan.
- Terlepasnya keikhlasan, dengan datangnya prasangka buruk.
- Terlepasnya sabar, dengan datangnya keakuan.
Hendaklah dirimu dan istri-istrimu serta para pengikutmu memperhatikannya."
"Wahai Ahmad, telah aku dengar apa-apa yang dirimu sampaikan kepadaku masa di tepi lautan, sungguh aku menahan kesedihan dihati dan kekhawatiran dihatiku atas apa-apa yang kamu sampaikan. Sungguh dirimu mendebatku dengan akal dan kelaziman manusia di zaman ini, aku dapat memahami dan dapat merasakan kerisauan hatimu, apakah bisa merubah goresan tinta di atas kain putih dan telah mengering ? Sungguh tidaklah seseorang itu masuk ke dalam syurgaNya Allah, jika menolak segala ketetapan Allah atas dirinya, tidaklah Allah mempedulikan banyaknya tasbih dan sujud yang dilakukan Azazil, hingga ia dinyatakan sesat tanpa ampunan walau kesalahannya hanya satu kali saja. Sedangkan manusia di akhir zaman sungguh aneh, melakukan banyak kesalahan tapi menginginkan masuk ke syurgaNya Allah. Sungguh tidaklah seseorang itu mengetahui baik dan buruknya wajah dan dirinya jika tak mempunyai cermin. Yang denikian itu perumpamaan seseorang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain tanpa melihat keburukan yang ada pada dirinya."
"Wahai Ahmad, bukankah telah Allah buka jalan untuk para pengikutmu di tanah itu ? Lalu sebagian dari mereka menanyakan sedikit harta mereka ? Sungguh apa-apa yang Allah berikan ke atas diri mereka, tidaklah sebanding dengan apa yang mereka keluarkan. Sungguh mereka bagaikan seorang anak kecil yang meratapi seekor ikan yang mati didaratan, sementara ia berada pada tepi kolam yang luas dengan aneka ikan yang lebih banyak dan indah. Itulah perumpamaan diri mereka di dalam perahumu. Sungguh mereka tidak pernah memahami apa-apa yang Allah letakkan di dalam perahumu, di atas ladang-ladang di negerimu dan di negeri saudaramu. Sungguh jika demikian keadaan mereka, merekalah orang-orang yang buta di dalam cahaya dan tuli di tengah kebisingan. Hendaklah mereka bertaubat sebelum Allah memberikan peringatan yang nyata."
"Wahai Ahmad, sungguh sebanyak apapun air yang dituangkan di kolam pasir tepi pantai, tidaklah akan menggenang dan berkesan, yang demikian itu perumpamaan seseorang yang menasihati dan memberikan banyak kebaikan kepada orang yang keras hatinya dan tertutup hatinya dalam genggaman iblis dan syetan, hendaklah dirimu dan pengikutmu memperhatikannya."
"Wahai Ahmad, sungguh tanah itu benar-benar akan menjadi milikmu dan orang-orang yang berjuang bersamamu, tidaklah mudah tanah di negerimu dalam mengurusnya, dan di kedua tanah (ladang) itu di negerimu dan di negeri saudaramu, sungguh tidaklah akan Allah letakkan keberkahan di atas dan dibawahnya, jika adanya keraguan atas segala sikapmu dalam menjalankan perintah Asrar yang telah Allah tetapkan dalam makhfiymu. Sungguh penilaan salah dan dosa atas dirimu bukanlah atas penilaian mereka. Bukankah aku dan saudaraku Musa dan aku bersama beberapa Waliyullah di negerimu pernah mereka dengar dan mereka mengetahuinya ? Sungguh tidaklah akan sampai pada pemahaman, jika antara hati dan akal mereka terhalang oleh dinding hubuddunia dan kesombongan serta amarah. Tulislah...!!!"
"Wahai Ahmad, apakah dirimu sengaja menunda-nunda dua perintah yang telah Allah tetapkan kepadamu ? Sunggub di zaman para Nabi dan para Wali-Wali Allah terdapat kaum yang bersemangat menjalankan perintah Allah, jika mereka merasa perintah itu ringan dan menyenangkan hati mereka, lalu mereka berpaling dan sebagian dari mereka mencaci dan sebagian dari mereka bermalas-malasan dan ada pula sebagian dari mereka membunuh para Nabi dan para Wali-Wali Allah ketika Allah memberikan perintah yang sedikit pahit dan melelahkan serta memberatkan hati mereka. Sungguh tidaklah akan ringan dan tidak pula akan sampai seseorang naik kejalan yang tinggi dengan mengangkat kepala dan tidak dengan membungkukan badannya. Melainkan mereka akan jatuh dan binasa."
"Wahai Ahmad, hendaklah dirimu bersabar, sungguh pada hari jumat ditempat itu, hendaklah dirimu mengambil thoriq yang mudah untuk para pengikutmu, laksanakanlah sholat jumat berjamaah ditempat itu dengan mengambil thoriq (madzhab) yang lain, sungguh Allah tidaklah membebani hambaNya dengan kewajiban dan fardhu, melainkan meringankannya. Yang demikian itu lebih baik dirimu lakukan. Hendaklah dirimu dan mereka yang berada di tempat itu, melaksanakannya. Kecuali kaum wanita, cukuplah mereka melaksanakan sholat dzuhur di tempat mereka. Dan tetapkanlah tempat itu menjadi tempat yang terbuka bagi siapapun, walaupun mereka tidak ada dalam perahumu, yang denikian itulah pendapat dari Ulama yang dipercaya Syeikh Nu'man bin Tsabit bin Marzuban yang mempunyai sifat yang hanif. Sungguh hujan itu menjadi tanda keridhoan Allah atas amal baik yang kalian lakukan dalam bermadzhab."
"Wahai Ahmad, lakukanlah kholwat di tempat yang telah dirimu bina selama 3 hari bersama seekor anjingmu bersamaku dan bersabarlah. Allah hendak meringankan apa-apa yang memberatkan hatimu dan hati istri pertamamu. Katakanlah kepadanya, tidaklah akan tercipta perhiasan yang indah dari tangan yang salah, sungguh Jawaahir yang masih di makhfiykan adalah atas perintah Allah, aku membentuknya, hingga Jawahirul Makhfiyyah akan menjadi Jawaahirul Mudhi' pada masa yang telah di tetapkan, hendaklah ia bersabar. Apakah ia hendak menukarnya menjadi Jawaahirul Khomidah...? Sungguh yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Sungguh Allah akan memberikan perintah kepadaku Balya bin Malkan untuk meninggalkanmu dan perahumu jika demikian."
"Wahai Ahmad, sungguh tidaklah ada halangan antara Nur Kakekmu yang Mulia Muhammad ke atas dirimu dan diri pasangan halalmu serta dalam diri para sahabatmu di dalam perahumu, melainkan terhalang hati mereka dengan sifat ragu dan malas. Serta adanya sifat syetan yang masih melekat didalam hati dan lisan mereka, yakni kesombongan dan amarah serta lisan yang kasar. Hendaklah mereka bersegera memperbaikinya. Bukankah telah aku khabarkan kepadamu ? Sungguh Beliau Kakekmu yang Mulia Muhammad akan datang dalam mimpi mereka yang hadir di tempat itu ? Hendaklah mereka memperhatikannya."
"Wahai Ahmad, sungguh dari semua kitab-kitab Para Ulama terdahulu, terdapat dua wasiat dari mereka. Yakni istiqomah dan ikhlas dalam menjalankan kehiduoan bersyari'at dan berakhlaqul karimah. Yang demikian itu hendaklah mereka perhatikan. Sungguh tidaklah ada perbedaan antara kitab Jawahirul Ma'ani dengan kitab Jawahirul Makhfiyyah masa sekarang ini, kecuali sedikit saja. Hendaklah dirimu berteguh hati."
"Wahai Ahmad, sungguh aku telah mendengar keluh kesahmu di tepi lautan beberapa hari yang lalu, apakah mereka para istrimu tidak mengetahui kisahku bersama saudaraku Ibrahim ? Aku khabarkan kepadamu. Sungguh sikap cemburu dan amarah istri pertama saudaraku Ibrahim, ada tiga macam :
- Pertama, disebabkan Qonturah (istri kedua Nabi Ibrahim) jauh lebih muda yang hakikatnya merupakan hadiah dari Allah yang memiliki tepat penyimpanan dua nur (Nuroin) tanda kenabian pada diri Ismail dan Nur Muhammad. Sungguh Qonturah adalah Putri seorang Raja yang di taklukan bangsa lain. Bukanlah seoang hamba sahaya yang pada darahnya mengalir darah Yafits bin Nuh, yang berkulit putih kemerahan bermata hitam dan indah. Sungguh aku Balya bin Malkan turut serta berhijrah bersama Saudaraku Khalilullah Ibrahim dan keluarga Beliau pada masa itu.
- Kedua, sungguh prasangka Sarai (Istri Pertama Nabi Ibrahim) atas sikap Ibrahim Khalilullah yang lebih nemperhatikan Qonturah dibandingkan dirinya. Sungguh yang demikian itu adalah bujuk rayu dan tipu daya iblis yang dihembuskan pada diri Sarai, hingga Allah menegurnya dengan sakit dan hampir binasa. Sebagai peingatan yang tegas lagi keras, lalu Ibrahim memaafkannya hingga Allah menahan murka dan adzabnya. Sungguh dibalik kemarahan Sarai terdapat syariat yang ringan dan indah kepada kaum perempuan, yakni bertindik dan berkhitan.
- Ketiga, Allah menyuburkan rahim Qonturah hingga lebih cepat ia mengandung Ismail yang dinantikan sebagai bukti nyata apa-apa yang Allah janjikan kepada Ibrahim Khalilullah dan Sarai, sungguh sikap cemburu yang berkepanjangan dari Sarai membebani hati Ibrahim Khalilullah. Hingga Allah memberikan perintahNya kepada Ibrahim dan Qonturah untuk membawa bayinya ke lembah Bakah, yang demikian itu adalah ujian kesabaran untuk Qonturah dan juga perlindungan Allah atas diri Qonturah dari Sarai yang cemburu."
"Wahai Ahmad, aku kisahkan yang demikian itu, hendaklah ummat Nabi Mulia tidak mengatakan Qonturah adalah budak dan hamba sahaya, malainkan Putri bangsawan Asyria. Sungguh kekalahan kerajaan Asyria menyebabkan Qonturah dan keluarganya jatuh dalam penindasan. Sungguh inilah kisah yang sebenarnya. Hendaklah ummat Nabi Mulia Muhamamd tidak merendahkan Rahim Mulia Qonturah yang merupakan tempat pemeliharaan dua cahaya."
"Wahai Ahmad, tidaklah ada kesalahan atas dirimu dan istrimu, melainkan syetan-syetan yang hendah menjatuhkan dirimu dan istrimu. Hendaklah kalian bertaubat dan saling memperbaiki diri. Tidaklah akan masuk kedalam hatimu bujuk rayu syetan dan perbuatan yang memalukan jika benteng dan perisaimu tak terkoyak. Sungguh istri pertamamu adalah perisai dan benteng yang mejaga dirimu dan syahwatmu. Hendaklah ia memperhatikan dan memahami bahwa ia adalah burujum musayyadah bagi dirimu dan diri kaum perempuan di dalam perahumu. Hendaklah ia berfikir."
"Wahai Ahmad, tidaklah akan ada air yang hendak mereka dapati di tepi lautan pada hari mereka berkumpul di tepi lautan, hingga adanya getaran di bawah kaki mereka. Lalu sebelas dari mereka bersiap untuk mengambilnya, dan Allah kembali memberikan air itu dari tanganmu. Hendaklah mereka berlaku adil. Dan hendaklah mereka menahan amarah, sungguh kesabaran dan keikhlasan serta gegaran dan kilatan itu adalah sebagai tanda yang nyata dari Allah."
"Wahai Ahmad, ambillah beberapa benih, simpanlah untuk mereka, tanam di tanah yang Allah berikan tanda kepadamu. Sungguh dari biji-bijian dan benih tumbuhan itu Allah hendak membedakan antara beberapa jenis pohon yang tumbuh, hingga tanaman itu diberi nama mengikuti nama negeri itu."
Ahmad Al-Makhfiy
